Bila mendengar kata
Malang, kita langsung tertuju dengan apel yang udah kondang, bisa juga tertuju
pada AREMA/ AREMANIA yang udah tersohor dijagad sepak bola Indonesia.Masyarakat
di luar Kota Malang, banyak mengidentifikasi nama tersebut bukan berasal dari
kata malang yang memiliki makna menghalangi, namun lebih memahami kata tersebut, pada malang yang menunjuk pada nasib yang kurang baik. Istilah dengan pemahaman makna yang kedua ini, bisa kita lihat dari pemakaian semboyan Kota Malang yang dipakai oleh pemerintah kolonial yaitu Malang Nominor Sursum Moveor yang memiliki arti Malang Namaku, Maju Tujuanku. Semboyan ini mengisyaratkan mengacu pada makna kata malang sebagai nasib yang kurang baik, hal ini bisa dilihat dari kata setelah Malang Namaku yaitu kalimat Maju Tujuanku. Kalimat kedua ini merupakan kalimat yang menegasi kalimat yang pertama.
Kata
malang dapat diartikan dalam bermacam-macam arti kata, mulai dari :
*
malang = nasib yang kurang beruntung
* malang = menghalangi /membentang (basa jawa)
* malang = nama yang diberikan oleh pasukan Sultan Demak ketika mencoba menyerang untuk memperluaskan daerah kekuasaan. Kata ini berasal dari istilah malang-melintang.
* malang = Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik. Kata ini berasal dari istilah Malang Kucecwara.
* malang = menghalangi /membentang (basa jawa)
* malang = nama yang diberikan oleh pasukan Sultan Demak ketika mencoba menyerang untuk memperluaskan daerah kekuasaan. Kata ini berasal dari istilah malang-melintang.
* malang = Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik. Kata ini berasal dari istilah Malang Kucecwara.
Tapi
jangan salah,Nama Malang ternyata memiliki nilai historis yang cukup tinggi.
Dibawah ini merupakan sejarah kota kita tercinta ini dinamakan Malang.
Dibawah ini merupakan sejarah kota kita tercinta ini dinamakan Malang.
Nama
Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam
Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja
Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo),
Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom
dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nam` Raja
setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian
dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa – Raja dalam agama
Ciwa.
Nama
para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat
nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya
Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton
juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama
tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat
mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari
segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari – Kegenengan –
Kidal – Jago : semuanya berupa candi).
Pusat
mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon
(Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas
sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan
sungai. Disekitar daerah Kebalen – Kuto Bedah – DAS Brantas banyak dijumpai gua
buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh
pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah
nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini
Wagir, Karuman kini Kauman.
Pararaton
ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari
menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga
diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik.
Penulisan Pararaton sudah . Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam
menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat
tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan
antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam
Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam
Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih
dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga
Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan.
Namun
istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan
istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan
mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan
pada masa sekarang.
http://www.bloggerngalam.com
http://www.bloggerngalam.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar